Skip to content

Film

Agustus 1, 2011

First of all, gue mau ngucapin “Selamat berpuasa” bagi teman-teman blogger yang menjalankannya. Maafkan gue kalau ada salah. Maafkan gue kalau postingnya sangat-sangat jarang, maklum dilema anak SMA (ngeles). Maafkan gue kalau ente kalah ganteng sama gue. Mari kita berlomba-lomba berbuat kebaikan di bulan penuh berkah ini. Semoga di bulan Ramadan 1432 Hijriah ini kita bisa lebih mendekatkan diri kita ke pada-Nya. Amin.

Eniwei, akhir-akhir ini gue jadi suka dengan dunia perfilman. Bukan, bukan gue jadi bintang sinetron atau bintang film trus gue jadi artisnya. Kalo gue yang jadi artisnya sih filmnya gak laku hahaha… Jadi yang gue maksud, gue jadi suka dengan nonton filmnya. Entah itu nonton di bioskop, nonton di DVD player pake DVD bajakan, bahkan layer tancep juga dijabanin. Dan gue lebih suka lagi kalau nonton film di bioskop gandengan sama cewe, bukan gandengan sama popcorn seperti yang gue lakukan belakangan ini.

Khususnya film-film Hollywood. Waktu ada berita film-film Hollywood gak bakalan tayang lagi di bioskop Indonesia. Seketika langsung nangis bombay, cincay, jahe, susu, telor dan bumbu dapur lainnya (lebay). Bayangin kalau film Hollywood gak masuk, berarti tiap gue nonton di bioskop ya nontonnya gak jauh-jauh dari pocong loncat atau tuyul nilep duit (no offense). Gue jadi gak bisa nonton Cars 2, Kung Fu Panda 2, Bobo Ho Gondrong, Silat Jet Li (dua terakhir bohong ding😀 )

Back to the topic, Kenapa gue jadi suka dengan dunia perfilman?
Oke, here’s the story.

Di sekolah gue, SMA Bina Insani (promosi dikiitt), kalau kami udah kelas XI semester 2 maka tugas akhir semesternya adalah membuat film. Jadi filmnya itu diambil dari novel indonesia, kemudian difilmkan. Yaa gak jauh-jauh seperti Laskar Pelangi dan tetraloginya, Ayat-ayat Cinta, dll. Tapi di sinilah beratnya, kami belum ada basic apapun tentang film. Gurunya pun hanya mengarahkan bagaimana film itu nanti kalau sudah jadi. Selain itu? Improvisasi anak-anak kelas.

Sekolah gue satu angkatan ada 4 kelas. Masing-masing kelas bikin satu film. Jadi di sini udah kayak perang antar kelas bikin film bagus-bagusan. Di sini setiap kelas harus kompak gimana caranya bikin satu film. Kelas gue memilih Refrain karya Winna Efendi sebagai novel yang kami angkat ke film. Ceritanya gampang dibuat ke skenario, kisahnya juga sangat nyentuh, dan novel ini ABG yang memiliki masalah yang kompleks banget. Sekalian lah gue rekomendasikan novel ini harus dibaca.

Gue, yang notabene cuma dibilang ganteng sama emak, gak dianggap ganteng sama teman-teman kelas. Maka jadi pemain utama yang syarat utamanya harus ganteng pun kandas. Ujung-ujungnya gue cuma jadi ‘murid 2’ di kelas dan ‘anak OSIS’. Bisa dibilang figuran sih. Kasihan gak sih gue? Nggak ya? *galau mode: ON*

Tetapi di sisi lain, teman-teman gue nganggap gue bisa jadi editor filmnya. Selain gue mainannya sama laptop doang dan laptop gue ada aplikasi editing, lagian di kelas gue gak ada lagi yang bisa ngedit film. Jadilah gue mau gak mau harus jadi editor. Kalau gue gak mau, yaudah film gak jadi. Dengan konsekuensi gue harus mantengin laptop terus-terusan buat ngedit film. Dan tugas gue adalah, membuat film supaya sempurna dan membuat pemain-pemain terlihat ganteng/cantik di sana.

Bingung ya? Yaudah intinya gue jadi editor.

Dengan modal iMovie (aplikasi editing filmnya), hard disk external 500 GB, dan kamera gue untuk bikin film. Alhamdulillah berjalan lancar, temen-temen gue juga pada nyemangatin. Temen-temen gue juga bangunin gue kalau loading filmnya udah kelar. Hahahaha… Thanks yow!

Oke, gak usah banyak cingcong, gue tampilin trailer filmnya di sini.

Cerita di film ini mirip banget sama yang ada di buku (ya iyalah). Cinta biasa yang dimulai dari persahabatan yang sudah lama, ternyata tiga sahabat yang saling menyakiti dan memiliki. Ini kutipan dari goodreads.com

Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.

Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang sahabat sejak kecil, yang kemudian jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sayangnya, di setiap cinta harus ada yang terluka.

Ini barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana. Tentang tiga sahabat yang merasa saling memiliki meskipun diam-diam saling melukai.

Ini kisah tentang harapan yang hampir hilang. Sebuah kisah tentang cinta yang nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan itu sendiri.

Kalau temen-temen blogger mau film karya kelas gue (Refrain) bisa pesen di gue. Emang sangat jauh dari bagus sih, tetapi setidaknya kelas gue dapet pengakuan dari kelas lain bahwa film ini paling bagus seangkatan (kalo ada temen sekolah gue yang baca, jangan marah yaaa😀 )

Ini serius, yang mau pesen bisa ke email ndias007@gmail.com

Atau kalau temen-temen mau di-edit-kan filmnya boleh deh sama gue. Harga terjangkau untuk pelajar, mahasiswa, juga kaum dhuafa. Hehehehe…😀

*semua yang gue tulis ini serius

Noval Dias

21 Komentar leave one →
  1. ojan'z gubrak permalink
    September 15, 2011 10:41 am

    wew…salam kenal nih coy…gw dah baca buku loe…seru kocak abizzss……
    btw….w cma mo numpang nama aja gan…

    ckckckck….™

  2. Oktober 9, 2011 10:00 am

    mas dias ngeditnya jago banget😐

  3. Januari 10, 2012 4:47 pm

    Mantap gan artikelnya, ikut iklan boleh gan:
    ★★ DVD Visual Effect Videocopilot terlengkap murah! Buat bikin film hollywood ★★
    http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11620431

  4. cep rully permalink
    April 4, 2012 10:32 am

    emang loe dilahirkan untuk menghibur orang yyah???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: